Jumat, 06 Februari 2009

RRI RADIO PUBLIK MIL;IK BANGSA

RRI, Radio Publik Milik Bangsa

RRI adalah satu-satunya radio yang menyandang nama negara, siarannya ditujukan untuk kepentingan seluruh lapisan masyarakat diseluruh wilayah negara kesatuan Republik Indonesia.
RRI yang berdiri 24 hari setelah kemerdekaan Republik Indonesia yaitu 11 September 1945, mempunyai peran besar dalam perjuangan kemerdekaan dan dalam perjalanan negeri ini, pendiri RRI adalah bapak-bapak dan Ibu-Ibu Pendiri Bangsa.
Setelah selama 32 tahun RRI menjadi corong pemerintah, maka berdasar UU No.32 tahun 2002, RRI berubah menjadi Lembaga Penyiaran Publik yang bersifat independen, netral dan tidak bersifat komersial yang tugasnya adalah memberikan pelayanan siaran informasi, pelestarian budaya, pendidikan, hiburan yang sehat, kontrol sosial dan menjaga citra positif bangsa di dunia Internasional.
RRI merupakan badan hukum yang didirikan oleh negara yang berdasarkan PP 12 tahun 2005 kedudukannya berada di bawah dan bertanggung jawab kepada Presiden RI.

Revitalisasi Pemancar dan Studio
RRI merevitalisasi pemancar dan studio jaringan berita Nasional Pro 3 untuk meningkatkan daya jangkau dan kualitas siaran mengingat secara geografis Indonesia terdiri dari ribuan pulau yang semua harus terlayani. Hal ini dimaksudkan agar tercapai keadilan informasi khususnya untuk masyarakat didaerah terdepan dan terpencil yang tidak terlayani oleh media lain. Revitalisasi ini penting untuk Pemilu 2009 sekaligus krisis ekonomi global tahun 2009.

Program Siaran
Sebagai Lembaga Penyiaran Publik RRI.memberikan hak masyarakat mengetahui berbagai informasi dan hak masyarakat untuk menyampaikan aspirasi .
Seluruh unsur negara dilayani oleh RRI baik eksekutif (Pemerintah), legislatif (DPR-MPR), DPD, yudikatif (MK, MA), pada tingkat pusat dan daerah dunia swasta dan masyarakat melalui penyelenggaraan :

·Siaran informasi yang akurat dan terpercaya ;
·Program siaran pendidikan untuk memperkuat pembentukan karakter bangsa (nation building) dan mendorong persatuan dan kesatuan bangsa (Pro 4);
·Program budaya untuk melestarikan dan mempertahankan identitas bangsa yang diharapkan menjadi pembawa bendera (Flag Carrier) dari bangsa ini (Pro 4) ;
·Program-program siaran untuk daerah perbatasan untuk menjaga informasi didaerah perbatasan ;
·Program-program siaran untuk kelompok minoritas, agar permasalahan mereka dapat terangkat dipermukaan ;
·Siaran hiburan yang sehat untuk memberikan ruang bagi anak-anak dan pemuda dalam mengembangkan bakat dan kreatifitas melalui RRI ;
·Siaran kontrol sosial yang lebih menekankan pada solusi, memberi pemahaman pada pendengar dan mengurangi ketidakpastian akan masalah-masalah bangsa ;
·Menyelenggarakan siaran yang berperspektif gender ;
·Menyelenggarakan siaran untuk menyukseskan Pemilu 2009 melalui program dialog interaktif, debat, profil, monolog, spot, feature, dll. Siaran pemilu RRI bersifat independen, netral, berimbang dan adil, yang dimaksud dengan adil adalah memberikan pelayanan pada semua partai politik, adil dalam frekuensi penyiaran, durasi, format dan isi siaran ;
·Menyelenggarakan siaran yang memberikan inspirasi dan pemberdayaan rakyat untuk mendorong ekonomi rakyat melalui siaran pedesaan, teknologi tepat guna, nelayan, pertanian, kerajinan, dll, siaran ini penting untuk menghadapi krisis ekonomi global ;
·Menyelenggarakan siaran Internasional dengan menggunakan 10 bahasa asing yaitu : Inggris, Perancis, Jepang, Malaysia, Arab, Mandarin, Jerman, Spanyol, Korea, Thailand, merupakan siaran luar negeri The Voice Of Indonesia (VOI)


Programa
Berdasarkan UU No. 32 tahun 2002 Tentang Penyiaran, RRI harus melayani seluruh lapisan masyarakat di wilayah NKRI, untuk itu masing-masing RRI mempunyai 3 programa ( Pro 1, Pro 2, Pro 3 ) dan pada 10 RRI memiliki Pro 4.
RRI merupakan radio yang mempunyai jaringan siaran terbesar yaitu 60 stasiun dengan 191 programa di Indonesia dan berdasarkan penelitian yang diselenggarakan Universitas Indonesia pada tahun 2003 RRI menjangkau 83% penduduk Indonesia.

Kelompok Pemerhati RRI
Sebagai bentuk partisipasi publik, masyarakat membentuk kelompok pemerhati RRI yang merupakan pendengar dari masyarakat umum, LSM, petani, nelayan, anggota DPR/DPRD, pemda, perusahaan swasta. Pemerhati ini terdapat di masing-masing stasiun RRI yang jumlahnya mencapai ratusan bahkan ribuan orang yang secara rutin aktif memberikan masukan, mengevaluasi program dan ikut mengisi program siaran.
Pada sebagian stasiun RRI kelompok pemerhati ini juga menyelenggarakan pelatihan-pelatihan untuk teknologi tepat guna, kerajinan, pengolahan bahan makanan yang hasilnya dipromosikan melalui RRI.

Penghargaan
RRI melalui penyelenggaraan siaran telah mendapat beberapa penghargaan / award dalam satu tahun terakhir, antara lain :
1.Pariwisata budaya award untuk acara “Nostalgic Tourism” didaerah perbatasan Morotai, penghargaan diberikan oleh Departemen Budaya dan Pariwisata (Pro 3 Jakarta ) ;
2.Pariwisata Budaya award untuk acara documenter “Masyarakat Baduy”, penghargaan diberikan oleh Departemen Budaya dan Pariwisata (Pro 3 Jakarta) ;
3.BMG award untuk siaran informasi tentang cuaca yang diberikan oleh Badan Meteorologi dan Geofisika (Pro 3 Jakarta ) ;
4.ABU award untuk siaran documenter “2 Tahun Lumpur Lapindo” , penghargaan diberikan oleh Asia Pacific Broadcasting Union (RRI Surabaya) ;
5.Rekor MURI untuk peserta parade grup band terbanyak 157 peserta dan rekor radio terlama menyiarkan parade band 23 jam 15 menit (RRI Cirebon) ;
6.Juara 1 dan 2 siaran dialog interaktif, tentang perempuan dalam rangka Hari Ibu 2009, yang diselenggarakan oleh Kementrian Negara Pemberdayaan Perempuan (RRI Manokwari dan RRI Ambon) ;
7.Adam Malik award untuk siaran Internasional , penghargaan diberikan oleh Departemen Luar Negeri (The Voice Of Indonesia).

Sidang Umum ABU
Tanggal 19 s/d 25 Nopember 2008 merupakan saat bersejarah bagi RRI dalam kiprah di tingkat Internasional karena RRI dipercaya sebagai penyelenggara dan tuan rumah sidang umum Asia Pacific Broadcasting Union, dihadiri sekitar 600 orang pimpinan radio dan televisi se dunia.
Sidang komisi program menerima usul RRI, yaitu tentang “ Green Radio”, jurnalisme damai, Tourism dan Terorism diangkat menjadi rekomendasi dari sidang umum untuk dilaksanakan. Sedangkan komisi teknik merekomendasikan migrasi analog ke digital. Selain topik-topik lain yang sangat aktual untuk perkembangan dunia penyiaran. Dalam pelaksanaan sidang umum ABU selama seminggu pada acara makan siang dan makan malam disuguhkan gelar budaya dari berbagai daerah di Indonesia sumbangan dari pemda Jayapura, Sintang, Palangkaraya, Medan, Padang, Surabaya, Yogyakarta, Bogor , Madiun dan Jakarta.
Hal ini dapat dimanfaatkan sebagai diplomasi budaya dan promosi wisata karena ditampilkan reog Ponorogo dan permainan angklung bersama semua peserta dan beberapa bentuk kesenian lainnya.

Presiden ABU dan pimpinan delegasi menghargai penyelenggaraan ABU GA di Bali dengan “Unqualified Success” ( tidak ada bandingnya ) dengan Sidang Umum sebelumnya.

Kerjasama RRI
Sejak Mei 2008, RRI menjalin kerjasama dengan Persatuan Radio Siaran Swasta Nasional Indonesia (PRSSNI) dan Asosiasi Radio Siaran Swasta Lokal Indonesia (ARSSLI) berupa siaran bersama dan relay untuk siaran berita dan siaran untuk kepentingan bangsa.
RRI juga menjalin kerjasama dengan lembaga penyiaran asing yaitu RTM, RTB, NHK, Radio Turki, Radio Swedia, Deutchwelle, Radio Korea, Radio Australia, dan Radio China.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar